Gerimis Desember 1

Aku tidak tahu akhirnya akan setragis ini. Terlebih, mungkin aku yang kalah. Semua berakhir sebab kamu lebih memilih pergi, dan berkemas lebih dulu dari apa yang ku tahu. Hal menyakitkannya adalah aku sedang mempertahankan harapanku sendiri tanpa kamu membantuku untuk mewujudkannya. Aku kecewa. Sangat. Dan entah sampai kapan aku bisa memulihkan semuanya. Setidaknya meredakan yang aku rasa. Berdamai dengan segala takdir dunia. Permainan konyol yang baru saja kamu sudahi. Meski setidaknya aku berusaha meyakinkan semesta bahwa aku baik-baik saja. Sungguh aku tidak benar-benar baik.

Bagaimanapun telah aku buktikan padamu, hanya denganmu, dan tetap denganmu aku sudah tidak ingin jatuh lagi. Aku tidak pernah bisa memainkan rasa. Karena aku telah belajar, rasa bukanlah permainan. Dan untuk itu, kamu berhasil membuatku percaya. Kamulah yang semoga menjadi satu dari sekian banyak yang membuatku ragu. Aku berharap ini bukan keliru. Biarlah aku ingkari rasa takutku, aku takut kecewa pada semua harapan. Tapi semoga, kamu bukan hanya sekadar harapan, tapi kepercayaan yang bisa ku jaga. Begitupun untukmu, memercayaiku dengan yakin. Itu kan yang kamu bilang sejak awal? Lantas kenapa kamu mengingkarinya, kembali ragu?

Jika saja kisahmu dulu salah satu alasan untuk menyudutkanku yang tidak tahu-menahu persoalan itu, bukan berarti kamu mematenkan bahwa aku akan seperti itu juga. Percayalah. Ku buktikan hatiku. Barangkali benar, tidak bisakah kita perbaiki? Memberi kesempatan untuk bisa kamu percayai lagi? Setidaknya aku berusaha bertahan. Entah itu karenamu atau karena inginku kita perlahan berjalan.

Kalau saja kamu dapat memahami. Mengerti betul rasa sakit yang baru saja aku terima darimu. Padahal katamu, pernah kamu merasakan hal yang serupa. Sakit bukan? Lalu, adalah aku yang sekarang kamu jadikan percobaan?

Entah ini aku yang bodoh atau kamu yang keparat. Satu waktu kamu memintaku percaya akan semua hal-hal indah yang menjajikan. Satu waktu kemudian, kamu kembali memintaku untuk berhenti berharap tentangmu. Siapa yang kamu kira dijadikan permainan?

Kemarilah, duduk bersama denganku walau sejenak. Aku hanya ingin meluruskan yang bengkok. Memutihkan yang abu-abu. Menyiratkan yang tersurat. Santai saja. Tidak usah marah-marah. Aku yakin kamu lebih paham persoalan perasaan. Enam tahun mengenalimu aku rasa sudah amat lama sepertinya, apa harus kandas dengan tragedi kita yang baru saja kita mulai. Percayalah sekali lagi. Ku buktikan apa yang kamu mau. Jangan lari dari masalah. Jika akhirnya pergi adalah hal paten yang tetap ingin kamu menangi. Setidaknya kamu hargai ketika sekian lama aku berjuang sendiri-meskipun bukan kamu yang minta. Seburuk apapun semua kecewa ini, kamu harus tahu. Hari ini, aku masih mengharapkanmu memintaku kembali. Dan entah aku tetap menyayangimu bahkan setelah kamu memutuskan untuk menyudahi.

 

18 Des 2017

06.46 am

Iklan